Senin, 02 Desember 2019

menganalisis perbedaan taksonomi bloom versi baru dan lama

A. Taksonomi Bloom Lama
Dalam sebuah taksonomi, satu kontinum itu terdiri atas beberapa kategori. Dalam taksonomi Bloom yang lama hanya mempunyai satu dimensi yaitu pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehension), aplikasi (application), analisis (analysis), sintesis (synthesis), dan evaluasi (evaluation), sedangkan taksonomi Bloom yang telah direvisi mempunyai dua dimensi yakni dimensi proses kognitif dan dimensi pengetahuan. Dalam dimensi proses kognitif terdiri atas enam kategori yaitu mengingat, memahami, mengaplikasikan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta.
 
Kontinum yang mendasari dimensi proses kognitif dianggap sebagai tingkat–tingkat kognisi yang kompleks. Misalnya memahami  dianggap merupakan tingkat kognisi yang lebih komplek ketimbang mengingat (Anderson, et al. 2001). Adapun dimensi pengetahuan terdiri atas pengetahuan Faktual, Konseptual, Prosedural, dan Metakognitif. Kategori ini dianggap merupakan kontinum dari yang konkret (Faktual) sampai yang abstrak (Metakognitif). Kategori-kategori Konseptual dan Prosedural mempunyai tingkat keabstrakan, misalnya pengetahuan prosedural lebih konkret ketimbang pengetahuan konseptual yang paling abstrak (Anderson, et al. 2001).
Tabel 2.1  Perbedaan taksonomi Bloom yang lama dan yang baru
Tingkatan Ranah Kognitif                 Versi lama                        Versi Baru
C1
Knowledge
Remember
C2
Understand
Understand
C3
Apply
Apply
C4
Analyze
Analyze
C5
Synthesis
Evaluate
C6
Evaluate
Create

Berikut akan dijelaskan dua dimensi dari Taksonomi Bloom yang lama diantaranya seperti berikut:


Taksonomi Bloom yang lama
 

a. Pengetahuan (Knowledge)
Berisikan kemampuan untuk mengenali dan mengingat peristilahan, definisi, fakta-fakta, gagasan, pola, urutan, metodologi, prinsip dasar, dan sebagainya. Sebagai contoh, ketika diminta menjelaskan manajemen kualitas, orang yg berada di level ini bisa menguraikan dengan baik definisi dari kualitas, karakteristik produk yang berkualitas, standar kualitas minimum untuk produk.

b. Pemahaman (Comprehension)

Berisikan kemampuan mendemonstrasikan fakta dan gagasan mengelompokkan dengan mengorganisir, membandingkan, menerjemahkan, memaknai, memberi deskripsi, dan menyatakan gagasan utama.

c. Aplikasi (Application)Di tingkat ini, seseorang memiliki kemampuan untuk menerapkan gagasan, prosedur, metode, rumus, teori, dan sebagainya di dalam kondisi kerja. Sebagai contoh, ketika diberi informasi tentang penyebab meningkatnya reject di produksi, seseorang yang berada di tingkat aplikasi akan mampu merangkum dan menggambarkan penyebab turunnya kualitas dalam bentuk fish bone diagram.

d. Analisis (Analysis)

Di tingkat analisis, seseorang akan mampu menganalisis informasi yang masuk dan membagi-bagi atau menstrukturkan informasi ke dalam bagian yang lebih kecil untuk mengenali pola atau hubungannya, dan mampu mengenali serta membedakan faktor penyebab dan akibat dari sebuah skenario yg rumit. Sebagai contoh, di level ini seseorang akan mampu memilah-milah penyebab meningkatnya reject, membanding-bandingkan tingkat keparahan dari setiap penyebab, dan menggolongkan setiap penyebab ke dalam tingkat keparahan yg ditimbulkan.

e. Sintesis (Synthesis)

Satu tingkat di atas analisis, seseorang di tingkat sintesa akan mampu menjelaskan struktur atau pola dari sebuah skenario yang sebelumnya tidak terlihat, dan mampu mengenali data atau informasi yang harus didapat untuk menghasilkan solusi yang dibutuhkan. Sebagai contoh, di tingkat ini seorang manajer kualitas mampu memberikan solusi untuk menurunkan tingkat reject di produksi berdasarkan pengamatannya terhadap semua penyebab turunnya kualitas produk.

f. Evaluasi (Evaluation)

Dikenali dari kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap solusi, gagasan, metodologi, dan sebagainya dengan menggunakan kriteria yang cocok atau standar yang ada untuk memastikan nilai efektivitas atau manfaatnya. Sebagai contoh, di tingkat ini seorang manajer kualitas harus mampu menilai alternatif solusi yang sesuai untuk dijalankan berdasarkan efektivitas, urgensi, nilai manfaat, nilai ekonomis, dan sebagainya.

B. Hasil Revisi Taksonomi Bloom
Pada tahun 1994, salah seorang murid Bloom, Lorin Anderson Krathwohl dan para ahli psikologi aliran kognitivisme memperbaiki taksonomi Bloom agar sesuai dengan kemajuan zaman. Hasil perbaikan tersebut baru dipublikasikan pada tahun 2001 dengan nama Revisi Taksonomi Bloom. Revisi hanya dilakukan pada ranah kognitif. Revisi tersebut meliputi:

a. Perubahan kata kunci dari kata benda menjadi kata kerja untuk setiap level taksonomi.
b. Perubahan hampir terjadi pada semua level hierarkhis, namun urutan level masih sama yaitu dari urutan terendah hingga tertinggi. Perubahan mendasar terletak pada level 5 dan 6
(Utari, 2016). Perubahan- perubahan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

Dimensi proses kognitif
 

a. Mengingat (C1)
Kategori Mengingat adalah mengambil pengetahuan yang dibutuhkan dari memori jangka panjang seorang siswa. Dua proses kognitif yang berkaitan dengan kategori ini adalah menyadari atau recoqnizing dan mengingat kembali atau recalling. Jenis pengetahuan yang relevan dengan kategori ini adalah pengetahuan faktual, pengetahuan konseptual, pengetahuan prosedural, dan pengetahuan metakognitif, serta kombinasi-kombinasi yang mungkin dari beberapa pengetahuan ini (Anderson, & Kratwhol; 2001).

b. Memahami (C2)

Seorang peserta didik dikatakan memahami jika mereka dapat mengkonstruksi makna dari pesan-pesan pembelajaran baik dalam bentuk lisan, tertulis dan grafik (gambar) yang disampaikan melalui pengajaran, penyajian dalam buku, maupun penyajian melalui layar komputer. Peserta didik dapat memahami jika mereka menghubungkan pengetahuan baru yang sedang mereka pelajari dengan pengetahuan yang sebelumnya telah mereka miliki. Lebih tepatnya, pengetahuan baru yang sedang mereka pelajari itu di padukan dengan skema-skema dan kerangka-kerangka kognitif yang telah ada. Lantaran konsep–konsep di otak seumpama blok–blok bangunan yang di dalamnya berisi skema–skema dan kerangka–kerangka kognitif. maka pengetahuan konseptual (conceptual knowledge) merupakan dasar dari proses memahami. Proses-proses kognitif yang termasuk dalam kategori Memahami meliputi proses menginterpretasikan, mencontohkan, mengklasifikasikan, merangkum, menduga, membandingkan, dan menjelaskan (Anderson, et al. 2001).

c. Mengaplikasikan (C3)

Kategori mengaplikasikan ini sangat erat kaitannya dengan pengetahuan prosedural atau procedural knowledge. Soal latihan atau exercises merupakan jenis tugas yang prosedur penyelesaiannya telah diketahui siswa, sehingga siswa dapat menggunakannya secara rutin. Suatu masalah merupakan jenis tugas yang penyelesaiannya belum diketahui siswa, sehingga mereka harus menemukan prosedur yang tepat untuk memecahkan permasalahan tersebut (Anderson, et al. 2001).

d. Menganalisis (C4)

Yang termasuk dalam kategori menganalisis adalah proses mengurai suatu materi menjadi bagian-bagian penyusunnya dan menentukan hubungan antara bagian -bagian tersebut dan hubungan antara bagian-bagian tersebut dengan materi tersebut secara keseluruhan. Kategori proses menganalisis ini mencakup proses-proses membedakan (differentiating), mengorganisasi (organizing), dan menghubungkan (attribute). (Anderson, et al. 2001).

e. Mengevaluasi (C5)

Kategori mengevaluasi diartikan sebagai tindakan membuat suatu penilaian (judgement) yang didasarkan pada kriteria dan standar tertentu. Kriteria yang paling sering digunakan adalah kualitas, efektivitas, dan konsistensi. Kriteria–kriteria ini ditentukan sendiri oleh siswa. Standar yang bisa digunakan bisa berupa standar kuantitatif maupun standar kualitatif. Standar-standar tersebut kemudian diterapkan pada kriteria-kriteria yang dipilih tadi. Kategori mengevaluasi mencakup sejumlah proses kognitif, yaitu memeriksa (checking), dan mengkritik (critiquing). Proses memeriksa atau checking merupakan proses membuat penilaian terhadap suatu kriteria internal, sementara proses mengkritik atau critiquing merupakan proses membuat penilaian yang didasarkan pada kriteria-kriteria eksternal (Anderson, et al. 2001).

f. Mencipta (C6)

Proses menyusun sejumlah elemen tertentu menjadi satu kesatuan yang koheren atau fungsional. Tujuan-tujuan pengajaran yang termasuk kedalam kategori mencipta ini adalah mengajarkan pada para siswa agar mampu membuat suatu produk baru dengan mengorganisasi sejumlah elemen atau bagian jadi suatu pola atau struktur yang belum pernah ada atau tidak pernah diprediksi sebelumnya. Proses-proses kognitif yang termasuk kedalam kategori ini biasanya juga dikoordinasikan dengan pengalaman belajar yang sudah dimiliki oleh para siswa sebelumnya. Meskipun kategori menciptakan ini mengharuskan adanya suatu pola pikir kreatif dari pihak siswa, pola pikir kreatif tersebut tidak sepenuhnya terbebas dari tuntutan-tuntutan atau batasan-batasan yang telah ditentukan dalam suatu pengajaran pelajaran atau batasan-batasan yang terjadi dalam situasi tertentu (Anderson, et al. 2001).

Dimensi Pengetahuan
 

1. Pengetahuan faktual
Pengetahuan faktual adalah pengetahuan tentang elemen – elemen dasar yang harus diketahui siswa untuk mempelajari satu disiplin ilmu atau untuk menyelesaikan masalah–masalah dalam disiplin ilmu tersebut (Anderson, et al. 2001).Pengetahuan faktual terdiri atas 2 jenis pengetahuan tentang terminologi dan pengetahuan tentang detail–detail dan elemen–elemen yang spesifik. Pengetahuan tentang terminologi meliputi pengetahuan tentang label dan simbol verbal dan nonverbal. Pengetahuan tentang detail–detail dan elemen–elemen yang spesifik merupakan pengetahuan tentang peristiwa, lokasi, orang, tanggal, sumber informasi, dan semacamnya.

2. Pengetahuan konseptual

Hubungan–hubungan antar elemen dalam sebuah struktur besar yang memungkinkan elemen–elemennya berfungsi secara bersama–sama (Anderson, et al. 2001: 41).Pengetahuan konseptual mencakup pengetahuan tentang kategori, klasifikasi, prinsip dan generalisasi serta pengetahuan tentang teori, model, dan struktur (Anderson, et al. 2001: 71).

3. Pengetahuan prosedural

Pengetahuan prosedural adalah pengetahuan tentang cara “melakukan sesuatu” (Anderson, et al. 2001: 77).  Menurut Alexander, Schallert, & Hare, 1991; Anderson, 1993; dejong & Ferguson – Hessler, 1996; Dochy & Alexander, (1995) dalam Anderson, et al. (2001: 77), pengetahuan ini mencakup tentang keterampilan, algoritma, teknik, dan metode, yang semuanya di sebut sebagai prosedur (Ramalisa, et al. 2014: 30). Pengetahuan prosedural merupakan pengetahuan tentang urutan kaidah-kaidah, prosedur-prosedur yang digunakan untuk menyelesaikan soal-soal matematika.

Salah satu ciri pengetahuan prosedural adalah adanya urutan langkah yang akan ditempuh yaitu sesudah suatu langkah akan diikuti langkah berikutnya. Pemahaman konsep yang tidak didukung oleh pengetahuan prosedural akan mengakibatkan siswa mempunyai intuisi yang baik tentang suatu konsep tetapi tidak mampu menyelesaikan suatu masalah ( Matunisma, 2012).

4. Pengetahuan metakognisi

Pengetahuan metakognisi adalah pengetahuan tentang kognisi secara umum dan kesadaran akan, serta pengetahuan tentang, kognisi diri–sendiri (Anderson, et al. 2001: 82).Metakognisi merupakan istilah yang diperkenalkan Flavell tahun 1976. Flavell, (Murni, 2010) menyatakan bahwa metakognisi merupakan kesadaran seseorang tentang proses kognitifnya dan kemandiriannya untuk mencapai tujuan tertentu.

Misalnya siswa SMP mempelajari materi bilangan bulat, dia perlu menyadari pengetahuan yang dimilikinya tentang konsep dan sifat-sifat operasi hitung bilangan bulat yang telah dipelajarinya dari SD, mengetahui dan memahami prosedur operasi hitung bilangan bulat yang dilakukannya dan menyadari kemampuan yang dimilikinya untuk menyelesaikan masalah terkait bilangan bulat.

Pengetahuan metakognitif memuat pengetahuan deklaratif (declarativeknowledge), pengetahuan prosedural (procedural knowledge), dan pengetahuan kondisional (conditional knowledge) (OLRC News, 2004). Pengetahuan deklaratif yaitu pengetahuan tentang diri sendiri sebagai pebelajar serta pengetahuan tentang strategi, keterampilan dan sumber-sumber belajar yang dibutuhkannya untuk keperluan belajar.

Pengetahuan prosedural yaitu pengetahuan tentang bagaimana menggunakan segala sesuatu yang telah diketahui dalam pengetahuan deklaratif dalam aktivitas belajarnya.Pengetahuan kondisional yaitu pengetahuan tentang bilamana menggunakan suatuprosedur, keterampilan, atau strategi dan bilamana hal-hal tersebut tidak digunakan, mengapa suatu prosedur berlangsung dan dalam kondisi yang bagaimana berlangsungnya, dan mengapa suatu prosedur lebih baik daripada prosedur-prosedur yang lain. Oleh sebab itu pengetahuan metakognitif dianggap sebagai berpikir tingkat tinggi karena melibatkan fungsi eksekutif yang lebih mengkoordinasikan perilaku pembelajaran.

Misalnya siswa diberikan sebuah soal pemecahan masalah terkait bilangan bulat yang bertujuan siswa mampu menemukan konsep KPK (kelipatan persekutuan terkecil) sebagai berikut. Sebuah mobil mengganti busi setelah berjalan 5.000 km, mengganti platina setelah berjalan 7.500 km, dan mengganti ban setelah berjalan 12.000 km. Setelah berjalan berapa kilometerkah kendaraan itu membutuhkan penggantian busi, platina, dan ban secara bersama-sama?

Dengan mencermati soal ini, pengetahuan deklaratif dapat terlihat pada saat mengajukan pertanyaan pada diri sendiri tentang apakah siswa telah mengenal unsur-unsur yang disebutkan dalam soal beserta strategi yang dapat digunakannya untuk memperoleh jawaban yaitu dengan menentukan kelipatan dari setiap bilangan yang diketahui. Siswa menentukan KPK dari tiga bilangan tersebut sebagai wujud dari pengetahuan prosedural.Siswa harus dapat beralasan mengapa KPK yang dicari dari tiga bilangan tersebut, ini termasuk pengetahuan kondisional.



















Senin, 26 Agustus 2019

cara mengukur diameter bumi,postulat fisika,asas asas dalam fisika


1. cara mengukur diameter bumi
Eratosthenes melaporkan pengukuran ini di buku “On the measurement of the Earth”. Cuma sayangnya, buku tersebut sudah hilang. Jadi, kita tidak tahu persis bagaimana cara Eratosthenes melakukan hal tersebut. Informasi terkait teknik yang dilakukan Eratosthenes ini kita dapatkan dari (1) buku-buku lain yang merujuk ke buku yang ditulis Eratosthenes ini dan (2) dugaan yang masuk akal terkait bagaimana Erathosthenes bisa melakukannya. Apa yang akan gue tuliskan di artikel ini adalah campuran dari keduanya. So, bagaimana cara Eratosthenes mengukur lingkar Bumi?
Di kota Aswan (Siena), bayangan tidak terbentuk karena sinar matahari tegak lurus dengan permukaan bumi. Sementara di kota Alexandria, sinar matahari tidak tegak lurus dengan permukaan bumi. Sudut antara tongkat dan bayangan bisa dicari. Eratosthenes mendapatkan bahwa sudutnya adalah sebesar 7,2o.

Image credit: todaslascosasdeanthony.com
Kalau tongkat di Alexandria dan di Aswan tersebut kita tarik garis lurus sampai dengan pusat Bumi, kira-kira kita akan mendapatkan gambar seperti berikut ini:

Dengan menggunakan prinsip sudut sehadap dan bertolak-belakang, kita bisa mendapatkan bahwa sudut antara kota Alexandria dan kota Aswan juga sama dengan 7,2o.

Sampai sini kira-kira kebayang nggak apa yang berikutnya harus dilakuin oleh Eratosthenes untuk bisa menghitung keliling Bumi? Kalau belum kebayang, perhatikan gambar berikut ini:

Keliling itu bisa dicari dengan persamaan berikut ini:

Intinya, perbandingan antara sudut 7,2o dengan 360o sama dengan perbandingan antara L dan keliling. Kalau begitu, tinggal kita hitung aja berapa nilai L. Pada kasus Eratosthenes ini, L adalah jarak dari kota Alexandia ke kota Aswan. Jadi, yang berikutnya harus dia lakukan adalah mengukur jarak kedua kota tersebut.
Eratosthenes dikabarkan membayar orang untuk berpergian dengan unta untuk mengukur jarak antara kedua kota tersebut. Dia mendapatkan jaraknya adalah 5000 stadia (sekitar 925 km). Dengan demikian, dia bisa memasukkan angka ini ke dalam rumus di atas. Hasilnya adalah sebagai berikut:

Kalau kita bandingkan dengan keliling bumi yang diukur di zaman modern (40.075 km), perhitungan Eratosthenes ini cuma meleset sekitar 15%. Salah satu penyebab melesetnya itu adalah karena data yang kurang akurat. Sebagai contoh, jarak antara kedua kota tersebut sebenarnya bukan 925 km, tapi 843 km. Kemudian sudut kedua kota tersebut juga bukan 7,2o, tapi 7,76o. Seandainya Eratosthenes menggunakan data yang lebih akurat dalam menghitungnya, maka dia akan mendapatkan hasil 39.108 km. Hanya meleset 2,4% dari keliling bumi yang diukur di zaman modern.
 2. cara mengukur diameter bumi ?

Eratosthenes melaporkan pengukuran ini di buku “On the measurement of the Earth”. Cuma sayangnya, buku tersebut sudah hilang. Jadi, kita tidak tahu persis bagaimana cara Eratosthenes melakukan hal tersebut. Informasi terkait teknik yang dilakukan Eratosthenes ini kita dapatkan dari (1) buku-buku lain yang merujuk ke buku yang ditulis Eratosthenes ini dan (2) dugaan yang masuk akal terkait bagaimana Erathosthenes bisa melakukannya. Apa yang akan gue tuliskan di artikel ini adalah campuran dari keduanya. So, bagaimana cara Eratosthenes mengukur lingkar Bumi?
Di kota Aswan (Siena), bayangan tidak terbentuk karena sinar matahari tegak lurus dengan permukaan bumi. Sementara di kota Alexandria, sinar matahari tidak tegak lurus dengan permukaan bumi. Sudut antara tongkat dan bayangan bisa dicari. Eratosthenes mendapatkan bahwa sudutnya adalah sebesar 7,2o.

Image credit: todaslascosasdeanthony.com
Kalau tongkat di Alexandria dan di Aswan tersebut kita tarik garis lurus sampai dengan pusat Bumi, kira-kira kita akan mendapatkan gambar seperti berikut ini:

Dengan menggunakan prinsip sudut sehadap dan bertolak-belakang, kita bisa mendapatkan bahwa sudut antara kota Alexandria dan kota Aswan juga sama dengan 7,2o.

Sampai sini kira-kira kebayang nggak apa yang berikutnya harus dilakuin oleh Eratosthenes untuk bisa menghitung keliling Bumi? Kalau belum kebayang, perhatikan gambar berikut ini:

Keliling itu bisa dicari dengan persamaan berikut ini:

Intinya, perbandingan antara sudut 7,2o dengan 360o sama dengan perbandingan antara L dan keliling. Kalau begitu, tinggal kita hitung aja berapa nilai L. Pada kasus Eratosthenes ini, L adalah jarak dari kota Alexandia ke kota Aswan. Jadi, yang berikutnya harus dia lakukan adalah mengukur jarak kedua kota tersebut.
Eratosthenes dikabarkan membayar orang untuk berpergian dengan unta untuk mengukur jarak antara kedua kota tersebut. Dia mendapatkan jaraknya adalah 5000 stadia (sekitar 925 km). Dengan demikian, dia bisa memasukkan angka ini ke dalam rumus di atas. Hasilnya adalah sebagai berikut:

Kalau kita bandingkan dengan keliling bumi yang diukur di zaman modern (40.075 km), perhitungan Eratosthenes ini cuma meleset sekitar 15%. Salah satu penyebab melesetnya itu adalah karena data yang kurang akurat. Sebagai contoh, jarak antara kedua kota tersebut sebenarnya bukan 925 km, tapi 843 km. Kemudian sudut kedua kota tersebut juga bukan 7,2o, tapi 7,76o. Seandainya Eratosthenes menggunakan data yang lebih akurat dalam menghitungnya, maka dia akan mendapatkan hasil 39.108 km. Hanya meleset 2,4% dari keliling bumi yang diukur di zaman modern.

2. 5 fostulat einstein ?

 1. Postulat Pertama Einstein
Postulat pertama Einstein dikenal sebagai prinsip relativitas. Pada postulat ini dinyatakan

bahwa: hukum-hukum fisika adalah sama dalam tiap-tiap kerangka acuan inersia. Jika hukum-
hukum itu dibedakan maka perbedaan tersebut dapat membedakan satu kerangka inersia dengan

kerangka lainnya atau dapat membuat satu kerangka yang bagaimanapun lebih benar
dibandingkan kerangka lainnya. Contoh pertama adalah kita mengamati dua anak yang bermain
menangkap bola dalam kereta yang bergerak dengan bergerak. Hal ini disebabkan hukum
mekanika klasik (Newtonian) adalah sama dalam tiap-tiap sistem inersia (Young dan Freedman,
2003: 649).


2. Postulat Kedua Einstein
Einstein menjelaskan dalam postulat keduanya sbb: laju cahaya dalam ruang hampa adalah
sama dalam semua kerangka acuan inersia dan tidak bergantung pada gerak sumber itu.
Misalnya dua orang pengamat mengukur laju cahaya dalam ruang hampa. Pengamat pertama
berada dalam keadaan diam terhadap sumber cahaya dan pengamat kedua bergerak sumber
cahaya tersebut. Keduanya berada dalam kerangka-kerangka inersia. Menurut prinsip relativitas
kedua pengamat harus mendapatkan hasil yang sama yakni laju cahaya sama dengan c tidak
bergantung apakah pengamat itu diam atau bergerak. Hal ini bertentangan dengan akal sehat.
Tetapi akal sehat adalah intuisi yang didasarkan pada pengalaman sehari-hari, dan biasanya
tidak termasuk pengukuran laju cahaya.

Dalam postulat kedua Einstein juga dapat diungkap bahwa: tidak mungkin untuk seseorang
pengamat inersia bergerak dengan laju c, yakni kelajuan cahaya dalam ruang hampa. Kelajuan
benda dengan laju sama dengan kelajuan cahaya c mengimplikasikan sebuah kontradiksi logis.
 Postulat Dalton
a. Atom adalah bagian terkecil dari suatu unsur terkecil dari suatu unsur dan tidak
dapat dibagi lagi. Postulat ini dibuat agar mempertegas pendapat Democritus yang
menyatakan tentang bahwa jika suatu materi terus dibagi, suatu saat atau ketika akan
sampai pada suatu partikel yang tidak dapat dibagi lagi. Dan partikel itu disebut atom.

b. Atom atom unsur sejenis mempunyai sifat yang sama meliputi volume, bentuk,
ataupun massanya. Sebaliknya atom atom unsur tidak sejenis mempunyai sifat yang
berbeda. Ponstulat ini merupakan gagasan baru Dalton. Menurut Dalton, atom merupakan
bagian terkecil dari suatu unsur yang masih memiliki suatu sifat unsur itu.

c. Dalam reaksi kimia, terjadi penggabungan atau pemisahan atom. Selanjutnya atom-
atom ditata ulang sehingga membentuk komposisi tertentu. Postulat ini didasari oleh

hukum kekekalan massa dari Lavoisier, yaitu massa sebelum dan sesudah reaksi adalah

sama. Oleh karena itu, tidak ada atom yang menghilang atau tercipta dari suatu reaksi
kimia. Perubahan yang terjadi hanyalah berupa pemisahan dan penggabungann antar
atom.
d. Atom dapat bergabung dengan atom lain untuk membentuk suatu molekul dengan
angka pembading bulat dan sederhana. Postulat ini merupakan konsep molekul, yaitu
antaratom dapat bergabung embentuk suatu molekul. Atom yang bergabung dapat sejenis
ataupun tidak sejenis. Penggabungan beberapa atom sejenis disebut molekul unsur.
Sedangkan penggabungan atom tidak sejenis disebut senyawa.
e. Atom tidak dapat diciptakan, dibelah maupun dimusnahkan. Menurut Dalton atom
itu tidak bisa diciptakan dibelah ataupun dimusnahkan, tetapi atom bisa bergabung
dengan atom lain. Dan setelah bergabung, atom tersebut bise dipisahkan kembali.
f. Ketika satu unsur bereaksi dengan unsur lain, atom dari unsur tersebut tidak
berubah menjadi atom unsur lain. Dalam postulat ini Dalton berpendapat ketika satu
unsur bereaksi dengan unsur lain, atom dari unsur tersebut tidak berubah menjadi atom
unsur lain.

4. Postulat Bohr
a. Elektron mengelilingi inti atom pada lintasan tertentu yang stasioner yang disebut
orbit/kulit. Walaupun elektron bergerak cepat tetapi elektron tidak memancarkan atau
menyerap energi sehingga energi elektron konstan. Hal ini berarti elektron yang berputar
mengelilingi inti atom mempunyai lintasan tetap sehingga elektron tidak jatuh ke inti.
b. Elektron dapat berpindah dari kulit yang satu ke kulit yang lain dengan memancarkan

atau menyerap energi. Energi yang dipancarkan atau diserap ketika elektron berpindah-
pindah kulit disebut foton.

5. Postulat Mekaanika Kuantum

Postulat 1 : Representasi keadaan kuantum
Keadaan sistem fisis mikroskopik (sistem kuantum) diwakili oleh fungsi gelombang  r⃗,t 
yang mengandung informasi yang lengkap tentang sistem kuantum tersebut.
Postulat 2 : Besaran fisika dan Operator
Setiap besaran fisika (observabel dinamis) O diwakili oleh operator Hermitean Ô .
Postulat 3 : Nilai harap operator

Pengukuran besaran fisika O yang diwakili oleh operator Hemitean Ô pada keadaan  r⃗,t
 memungkinkan penentuan nilai eigen1 n a operator tersebut secara pasti. Persamaan
nilai eigen untuk operator Ô adalah

Postulat 4 : Sifat probalisitik hasil ukur
Untuk sistem fisis yang berada pada keadaan yang diwakili oleh fungsi gelombang dengan
bentuk umum ψ (r⃗,t) = ∑ ciφi

(r⃗,t) i maka pengukuran observabel O akan menyebabkan

alihan (loncatan) keadaan dari  (r⃗,t) φi

(r⃗,t) dengan peluang sebesar pi ∝ |ci
|
2 =

cic
idan dihasilkan nilai eigen on.
Postulat 5 : Evolusi sistem kuantum
Keadaan kuantum  r⃗,t berevolusi terhadap waktu menurut persamaan Schroedinger




3. asas asas fisika

1. asas doppler

Asas Doppler membahas tentang terjadinya perubahan frekuensi bunyi yang diterima
pendengar karena adanya perubahan jarak antara sumber bunyi dengan pendengar.
Meskipun demikian, sebenarnya frekuensi bunyi yang dihasilkan sumber bunyi adalah tetap.
a. 2 Bila sumber bunyi mendekat, frekuensi yang diterima semakin besar, nada terdengar
semakin tinggi.
b. 2 Bila sumber bunyi menjauh, frekuensi yang diterima semakin berkurang, nada
terdengar semakin rendah.

2. Asas Black
Asas Black adalah sebuah prinsip dalam ilmu termodimakia yang dikemukakan oleh
seorang ilmuan Fisika Joseph Black. Asas ini menjabarkan beberapa poin di antaranya yaitu:
a. Apabila dua buah benda yang berbeda yang pada suhunya dicampurkan, benda yg panas
memberi kalor pada benda yang dingin sehingga suhunya akhirnya sama

b. Jumlah kalor yang diserap benda dingin tersebut sama dengan jumlah kalor yang dilepas
oleh benda panas
c. Benda yang didinginkan melepaskan kalor yang sama besarnya dengan kalor yang
diserap apabila dipanaskan.

3. Asas Bernouli
Asas Bernoulli dikemukakan pertama kali oleh Daniel Bernoulli (1700 – 1782).
“tekanan fluida di tempat yang kecepatannya tinggi lebih kecil daripada di tempat yang
kecepatannya lebih rendah”
Semakin besar kecepatan fluida dalam suatu pipa maka tekanannya makin kecil dan
sebaliknya makin kecil kecepatan fluida dalam suatu pipa maka semakin besar tekanannya.

4. Asas Ketidakpastian Heisenberg
Asas ketidakpastian Heisenberg berbunyi : “Tidak mungkin menentukan posisi dan
kecepatan elektron dalam satu waktu dengan ketelitian yang tinggi. Jika suatu percobaan
dibuat untuk menentukan posisi elektron, maka kecepatannya tidak bisa ditentukan dengan
pasti. Begitu pula sebaliknya, jika dibuat percobaan untuk menentukan kecepatan
(momentum) elektron, maka posisinya menjadi berubah”. Selama ini, ketika kita disuguhkan
dengan pembuktian secara matematis, yaitu dengan rumusnya yang terkenal :

Δx.Δp > h

5. Asas Larangan Pauli
Wolfgang Pauli menemukan asas yang mengatur konfigurasi atom-atom berelektron
banyak. Asas Larangan Pauli berbunyi:
“Tidak mungkin terdapat dua elektron dalam sebuah atom yang berada dalam keadaan
kuantum yang sama”.
Ini berarti elektron.-elektron dalam sebuah atom tidak mungkin memiliki keempat bilangan
kuantum ( n, l, m , s ) yang tepat sama, melainkan sedikitnya satu bilangan kuantum harus
berbeda.