SPESIFIKASI
Kode : MC-245
Jenis : termometer digital
Tipe : omron MC-245
Depkes : teregristrasi
Fitur :
1. Untuk pengukuran oral, rectal, dan dibawah ketiak
2. Pengukuran akurat
3. Fungsi memori hasil pengukuran terakhir
4. Tampilan layar LCD
5. Hasil pengukuran cepat (80 detik untuk oral, 60 detik untuk rectal dan 120 detik untuk peggunaan di bawah ketiak)
6. Water resistant sehingga mudah dibersihkan
7. Dapat mengukur dengan suhu derajat celcius dan derajat fahrenheit
8. Baterai tidak dapat diganti
9. Bunyi beep saat pengukuran selesai
10. Akurasi pengukuran ± 0,1 derajat celcius, ± 0,2 derajat fahrenheit
Berat pengiriman : 1 kg(6000/4000)
Harga : Rp.45.000,-
SPESIFIKASI
· Kode : MC-246
· Jenis : termometer digital
· Tipe : omron MC-246
· Depkes : teregristrasi
· Fitur :
1. Untuk pengukuran oral, rectal,dan dibawah ketiak
2. Pengukuran akurat
3. Fungsi memori hasil pengukuran terakhir
4. Tampilan layar LCD
5. Hasil pengukuran cepat (80 detik untuk oral, 60 detik untuk rectal dan 120 detik untuk peggunaan di bawah ketiak)
6. Water resistant sehingga mudah dibersihkan
7. Dapat mengukur dengan suhu derajat celcius dan derajat fahrenheit
8. Baterai dapat diganti
9. Bunyi beep saat pengukuran selesai
10. Akurasi pengukuran ± 0,1 derajat celcius, ± 0,2 derajat fahrenheit
· Berat pengiriman : 1 kg (6000/4000)
· Harga : Rp.55.000,-
PERBANDINGAN TERMOMETER A DAN TERMOMETER B
No Persyaratan TermometerA TermometerB
. Nilai Pedagogik Murah,Berkualitas dan sangat mudah dalam pengoperasian atau penggunaannya
Murah, Berkualitas dan sangat mudah dalam pengoperasian atau penggunaannya
. Daya Guna Berfungsi untuk mengukur suhu badan melalui oral, rectal dan dibawah ketiak
Berfungsi untuk mengukur suhu badan melalui oral, rectal dan dibawah ketiak
. Struktur Alat · Memiliki layar LCD
· Baterai tidak dapat diganti (dapat digunakan 5000 kali pemakaian)
· Tahan air
·
Mengeluarkan suara beep ketika pengukuran selesai
· Memiliki layar LCD
· Baterai dapat diganti
· Tahan air
· Mengeluarkan suara beep ketikapengukuranselesai
. Ketelitian/Rehabilitas
± 0,1 derajat celcius, ±0,2 derajat Fahrenheit
± 0,1 derajat celcius, ±0,2 derajat Fahrenheit
. Bahan Alat Fleksibel Fleksibel
. Ukuran 5x5x5 (cm) 5x5x5 (cm)
. BentukAlat Tidak lentur /kaku dan kecil sesuai dengan ukuran termometer digital padaumumnya
Tidak lentur /kaku dan kecil sesuai dengan ukuran termometer digital padaumumnya
. Nilai Reparasi Termometer ini tidak mudah rusak , tetapi jika rusak tidak bisa di perbaiki
Termometer ini tidak mudah rusak , tetapi jika rusak tidak bisa di perbaiki
. Kepraktisan Bawa / Simpan
Sangat praktis untuk dibawa kemana saja karena ukurannya yang kecil
Sangat praktis untuk dibawa kemana saja karena ukurannya yang kecil
0. Keselamatan Menghilangkan setiap kekhawatiran tentang bahaya merkuri atau kaca yang mudah pecah.
Menghilangkan setiap kekhawatiran tentang bahaya merkuri atau kaca yang mudah pecah.
1. Harga Rp. 45.000 Rp. 55.000
Jadi , kesimpulannya di antara kedua termometer Omron ini yang lebih Efisien dan Efektif adalah termometer Omron MC 245, karena termometer Omron MC 245 lebih murah harganya dan baterainya tidak perlu diganti sehingga lebih hemat menggunakan termometer Omron MC 245 dibandingkan termometer Omron MC 246 walaupun diantara kedua termometer ini banyak memiliki kesamaan.
DAFTAR PUSTAKA
http://distributor-kursi-roda.blogspot.co.id/p/jual-termometer-thermometer-digital.html
http://tokoalkes.com/termometer-digital-omron-mc-245.htm
http://galerimedika.com/Thermometer-Alat-Ukur-Suhu-Tubuh/Termometer-Omron-MC-245
http://galerimedika.com/Thermometer-Alat-Ukur-Suhu-Tubuh/Termometer-Omron-
Senin, 20 Februari 2017
Percobaan resonansi bunyi
Resonansi Bunyi (Mekanik)
1. Landasan Teori
Gelombang adalah bentuk dari getaran yang merambat pada suatu medium. Pada gelombang yang merambat adalah gelombangnya, bukan zat medium perantaranya. Satu gelombang dapat dilihat panjangnya dengan menghitung jarak antara lembah dan bukit (gelombang tranversal) atau menhitung jarak antara satu rapatan dengan satu renggangan (gelombang longitudinal). Cepat rambat gelombang adalah jarak yang ditempuh oleh gelombang dalam waktu satu detik (Riyn,2008).
Bunyi adalah bahan terpenting dalam musik. Bunyi berasal dari Sumber bunyi, yang digetarkan oleh tenaga atau energi. Kemudian getaran tersebut oleh pengantar diantarkan atau dipancarkan keluar. Dan bila getaran ini sampai di telinga kita, barulah kita dapat mendengarkannya (Mswahyudi,2009).
Pada umumnya bentuk gelombang di alam adalah sangat kompleks dan sulit digambarkan secara sistematis karena ketidak-linieran, tiga dimensi dan mempunyai bentuk yang random ( Suatu deret gelombang mempunyai periode dan tinggi tertentu ). Beberapa teori yang ada hanya menggambarkan bentuk gelombang yang sederhana dan merupakan bentuk pendekatan gelombang alam. Ada beberapa teori dengan berbagai derajat kekomplekan dan ketelitian untuk menggambarkan gelombang di alam diantaranya adalah teori airy, Stokes, Gertsner, Mich, Knoidal, dan tunggal. Masing – masing teori tersebut mempunyai batasan keberlakuan yang berbeda – beda. Teori yang paling sederhana adalah teori gelombang linier yang pertama kali ditemukan oleh Airy pada tahun 1845(Rahmat,2008).
2. Tinjuan Pustaka
2.1 Pengertian Gelombang
Gelombang adalah getaran yang merambat. Bentuk ideal dari suatu gelombang akan mengikuti gerak sinusoide. Selain radiasi elektromagnetik, dan mungkin radiasi gravitasional, yang bisa berjalan lewat vakum, gelombang juga terdapat pada medium (yang karena perubahan bentuk dapat menghasilkan gaya memulihkan yang lentur) di mana mereka dapat berjalan dan dapat memindahkan energi dari satu tempat kepada lain tanpa mengakibatkan partikel medium berpindah secara permanen; yaitu tidak ada perpindahan secara masal. Malahan, setiap titik khusus berosilasi di sekitar satu posisi tertentu.
(Wikipedia,2010).
Gelombang dapat dipantulkan (refleksi), dibiaskan (refraksi), difokuskan, dipolarisasi dan sebagainya. Penelitian eksperimental tentang gelombang cahaya tentang hukum pemantulan (refleksi) yaitu :Sinar yang direfleksikan dan yang direfraksikan terletak pada satu bidang yang dibentuk oleh sinar datang dan normal bidang batas dititik datang (Gie,2009).
Selama Gelombang dengan medan elektromagnetik yang dinyatakan pada fase medan E yaitu E=X Eo (ejk1-ejk2)= - X 2j Eo sin kz terlihat tidak bergerak , ini disebut dengan gelombang berdiri (Liang,1995).
2.2 Jenis-Jenis Gelombang
Bila gelombang berjalan sepanjang tali ,katakan dari kiri kekanan partikel tali bergerak naik turun dalam arah lintang pada gerak gelombang itu sendiri. Gelombang seperti ini disebut gelombang lintang atau gelombang transversal. Ada tipe gelombang lain yang dikenal sebagai gelombang bujur atau gelombang longitudinal. Dalam sebuah gelombang longitudinal getaran partikel media adalah sama arahnya dengan arah gelombang. Gelombang longitudinal adalah siap dibentuk pada proses yang ditarik atau diletakan secara bergantian menekan dan mengembang pada suatu ujungnya (Giancoli,1997).
Menurut (Riyn,2008) tentang jenis-jenis gelombang seperti berikut :
1.Gelombang transversal
Gelombang transversal adalah gelombang yang arah rambatannya tegak lurus dengan arah rambatannya. Satu gelombang terdiri atas satu lembah dan satu bukit, misalnya seperti riak gelombang air, benang yang digetarkan, dsb.
2. Gelombang longitudinal
Gelombang longitudinal adalah gelombang yang merambat dalam arah yang berimpitan dengan arah getaran pada tiap bagian yang ada. Gelombang yang terjadi berupa rapatan dan renggangan. Contoh gelombang longitudinal seperti slingki / pegas yang ditarik ke samping lalu dilepas (Riyn,2008).
Menurut (Yolanda,2009) berdasarkan amplitudo dan fasenya :
Gelombang berjalan adalah gelombang yang amplitudo dan fasenya sama di setiap titik yang dilalui gelombng.
Gelombng diam (stasioner) adalah gelombang yang amplitudo dan fasenya berubah (tidak sama) di setiap titik yang dilalui gelombang.
2.3 Aplikasi Gelombang Bunyi pada Perikanan
Aplikasi fish finder “Hydro Acoustic” dan GPS dalam teknolgi pencarian ikanb Saat ini, hydro-acoustic memiliki peran yang sangat besar dalam sektor kelautan dan perikanan, salah satunya adalah dalam pendugaan sumberdaya ikan (fish stock assessment). Teknologi hydro-acoustic dengan perangkat echosounder dapat memberikan informasi yang detail mengenai kelimpahan ikan, kepadatan ikan sebaran ikan, posisi kedalaman renang, ukuran dan panjang ikan, orientasi dan kecepatan renang ikan serta variasi migrasi diurnal-noktural ikan (Herawati,2009).
Penggunaan -Gelombang Bunyi (Acoustic) Pada Alat Tangkap Payang Terhadap Hasil Tangkap ]kan di Perairan Pantai Popoh K abupaten Tulungagung dibandingkan pelakuan yaitu pengoperasian alat tangkap payang menggunakan bantu gelombang suara dan tanpa alat pembantu gelombang suara. Pada alat bantu gelombang suara memberikan hasil yang lebih baik dari pada menggunakan alat tangkap tanpa bantu gelombang suara (Efani,1996).
Metode akustik merupakan proses-proses pendeteksian target di laut dengan mempertimbangkan proses-proses perambatan suara. Aplikasi metode ini dibagi menjadi 2, yaitu sistem akustik pasif dan sistem akustik aktif. Salah satu aplikasi dari sistem aplikasi aktif yaitu Sonar yang digunakan untuk penentuan batimetri. Sonar (Sound Navigation And Ranging) berupa sinyal akustik yang diemisikan dan refleksi yang diterima dari objek dalam air (seperti ikan atau kapal selam) atau dari dasar laut(DJPB,2010).
2.4 Bunyi
Bunyi atau suara adalah kompresi mekanikal atau gelombang longitudinal yang merambat melalui medium. Medium atau zat perantara ini dapat berupa zat cair, padat, gas. Jadi, gelombang bunyi dapat merambat misalnya di dalam air, batu bara, atau udara(Wikipedia,2010).
Bunyi adalah suatu bentuk gelombang longitudinal yang merambat secara perapatan dan perenggangan terbentuk oleh partikel zat perantara serta ditimbulkan oleh sumber bunyi yang mengalami getaran (Godam64,2007).
Bunyi adalah bahan terpenting dalam musik. Bunyi berasal dari Sumber bunyi, yang digetarkan oleh tenaga atau energi. Kemudian getaran tersebut oleh pengantar diantarkan atau dipancarkan keluar. Dan bila getaran ini sampai di telinga kita, barulah kita dapat mendengarkannya (Mswahyudi,2009).
2.5 Resonansi Bunyi
Resonansi adalah peristiwa ikut bergetarnya suatu benda akibat benda lain yang bergetar karena keduanya memiliki frekuensi yang sama atau memiliki frekuensi yang merupakan bilangan bulat dari frekuensi salah satu benda bergetar. Resonansi bunyi pada kolom udara dimanfaatkan untuk menghasilkan bunyi pada alat musik. Alat- alat musik memiliki lubang udara sehingga terjadi resonansi udara dan menghasilkan suara yang merdu.
Misalnya : bunyi merdu pada gitar dihasilkan oleh resonansi anatara dawai dan kotak resonansi. Ketika gitar di petik udara di dalam kotk resonansi bergetar dengan frekuensi yang sama dengan frekuensi dawai. Udara yang berada di dalam kendang juga ikut bergetar ketika kendang dipukul. Jika tidak ada kolom udara pada alat musik kita tidak dapat mendengar merdunya suara musik.
Untuk memahami bagaimana proses resonansi kita perhatikan dua buah garputala yang beresonansi seperti pada gambar.
Apabila salah satu garputala kita pukul, maka garputala akan bergetar. hal ini menyebabkan garpula lainnya juga ikut bergetar karena frekuensi keduanya sama. Frekuensi bunyi pada garputaladipengaruhi oleh bentuk garputala, bahan garputala dan besar.
Resonansi Pada Beban Yang Digantung Dengan Tali
Tiga buah batu yang digantung dengan benang
Pada saat beban A diayun ternyata beban B ikut berayun, beban C diam.
Pada saat beban B diayun ternyata beban A ikut berayun, beban C diam.
Pada saat beban C diayun beban A diam dan beban B diam.
Maka pada beban yang digantung dengan tali dapat diambil kesimpulan agar dapat terjadi resonansi panjang tali penggantung harus sama.
Resonansi Kolom Udara
Jika garpu tala dengan frekuensi tertentu dibunyikan di atas kolom udara, kemudian kolom udara digerakkan naik turun, maka suatu saat terdengar bunyi yang lebih keras dari bunyi aslinya secara berulang-ulang. Pada saat terdengar bunyi yang keras dari bunyi aslinya tersebut dikatakan dalam kolom udara terjadi peristiwa resonansi.
Ø Pada saat terjadi perkerasan pertama dikatakan terjadi resonansi I.
Ø Pada saat terjadi perkerasan kedua dikatakan terjadi resonansi II.
Resonansi Kolom Udara
Pada saat terjadi perkerasan ketiga dikatakan terjadi resonansi III dan seterusnya
Ø Resonansi I syaratnya jika L = 1/4 λ
Ø Resonansi IIsyaratnya jika L = 3/4 λ
Ø Resonansi III syaratnya jika L =5/4 λ
Keterangan:
L adalah panjang kolom udara di atas permukaan air.
λ adalah panjang gelombang bunyi yang terbentuk.
Dengan percobaan resonansi pada kolom udara tersebut dapat ditentukan kecepatan bunyi di udara pada saat itu dengan menggunakan persamaan :
V = λ . f
Dimana :
v adalah kecepatan bunyi (dalam m/detik)
λ adalah panjang gelombang (dalam meter)
f adalah frekuensi sumber bunyi (dalam Hz)
Jika getaran yang didengar lebih kuat, ini menunjukkan adanya resonansi dari udara di dalam tabung. Dengan demikian adanya resonansi bunyi, mengakibatkan bunyi asli menjadi lebih keras. Pada alat-alat seperti gitar, biola, kentongan, beduk, dan lain-lain diberi kotak yang berisi udara. Hal ini dimaksudkan karena udara mudah beresonansi maka bunyi yang dihasilkan oleh alat-alat tersebut menjadi lebih keras.
Resonansi Selaput Tipis
Bagian yang sangat penting pada telinga kita dalah gendang pendengaran. Bagaimana jika gendang pendengaran kita rusak? Selaput gendang sangat mudah beresonansi. Jika ada bunyi dari luar yang masuk lewat lubang telinga maka selaput gendang pendengaran akan bergetar. Dengan adanya getaran ini, terjadilah resonansi.
Akibat resonansi, kita dapat mendengar bunyi-bunyi di sekitar kita. Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa syarat terjadinya resonansi adalah :
frekuensinya sama;
ada selaput tipis;
ada ruang udara yang panjangnya sama dengan bilangan ganjil 1/4 kali panjang gelombang.
Resonansi Dapat Memperkuat Bunyi Asli
Bunyi yang dihasilkan garpu tala sebenarnya tidak terlalu keras. Namun, ketika terjadi resonansi dengan kolom udara, suara garpu tala menjadi cukup nyaring terdengar. Di sekitar selaput suara manusia terdapat udara. Ketika selaput suara bergetar, udara ini akan ikut bergetar. Getaran udara ini akan mengakibatkan suara manusia terdengar nyaring.
Kerugian Akibat Resonansi
Tidak selamanya resonansi menguntungkan. Bunyi ledakan bom yang sangat keras dapat menimbulkan getaran yang dapat meruntuhkan gedung-gedung. Getaran kereta api yang lewat menyebabkan bagianbagian rumah yang ada di pinggir rel ikut bergetar. Jika hal ini terjadi terus-menerus dan dalam waktu yang lama maka rumah akan cepat rusak karena proses resonansi.
3. METODOLOGI PERCOBAAN
3.1 Alat dan Fungsi
Alat yang digunakan dalam Praktikum Fisika Dasar materi Resonansi Bunyi adalah :
Ø Tabung Resonansi :untuk mencari dengungan (resonansi) bunyi
Ø Garputala :pembuat,frekuensi tertentu yaitu frekuensi 512,426.6,341.3Hz
Ø Alat Pemukul :untuk memukul garputala
Ø Jangka Sorong :untuk mengukur diameter tabung resonansi
Ø Meteran :untuk menentukan jarak L1 dan L2
Ø Teko :untuk wadah air
Ø Nampan :untuk tempat alas alat
Ø Thermometer :untuk mengukur suhu ruangan
Ø Selang :untuk mengalirkan air dari teko ke tabung resonansi
3.2 Bahan dan Fungsi
Bahan yang digunakan dalam Praktikum Fisika Dasar materi Resonansi Bunyi adalah air sebagai medium perambatan resonansi bunyi.
4. Analisa Prosedur
Pertama yang harus disiapkan pada Praktikum Fisika Dasar materi Resonansi Bunyi adalah alat-alat dan bahan seperti tabung resonansi untuk mencari dengungan (resonansi) bunyi,garputala pembuat frekuensi tertentu (f= 512,426.6,341.3Hz),alat pemukul untuk memukul garputala,jangka sorong untuk mengukur diameter tabung resonansi,meteran untuk menentukan jarak l1 dan l2
teko untuk wadah air dan nampan untuk tempat alas alat,thermometer untuk mengukur suhu ruangan,selang untuk mengalirkan air dari teko ke tabung resonansi dan air sebagai medium perambatan resonansi bunyi.
Garputala dengan frekuensi (512,426.6,341.3 Hz) dipukul dengan alat pemukul lalu didekatkan dibibir tabung resonansi serta diturunkan teko (1cm) hingga terdengar suara pengerasan suara. Diukur antara panjang ujung tabung dengan tinggi permukaan air (l1) agar lebih akurat diulang,dan diulang kembali untuk menentukan (l2) diamati, dan dicatat hasilnya.
Frekuensi 512Hz
Pertama yang harus disiapkan adalah alat-alat dan bahan seperti tabung resonansi untuk mencari dengungan (resonansi) bunyi,garputala pembuat frekuensi tertentu f 512 Hz,alat pemukul untuk memukul garputala,jangka sorong untuk mengukur diameter tabung resonansi,meteran untuk menentukan jarak l1 dan l2,teko untuk wadah air dan nampan untuk tempat alas alat,thermometer untuk mengukur suhu ruangan,selang untuk mengalirkan air dari teko ke tabung resonansi dan air sebagai medium perambatan resonansi bunyi.
Pada garputala dengan frekuensi 512Hz, pertama disiapkan garputala 512Hz dan tabung resonansi yang sudah diukur diameternya ,kemudian teko diisi air hingga tebung resonansi penuh. Garputala dipukul dan diletakan pada bibir tabung. Didengar bunyinya dan dicatat sebagai (l1) diulang dan dicatat sebagai (l2) dicatat dan ditulis hasilnya.
Frekuensi 426,6Hz
Pertama yang harus disiapkan adalah alat-alat dan bahan seperti tabung resonansi untuk mencari dengungan (resonansi) bunyi,garputala pembuat frekuensi tertentu (f 426.Hz),alat pemukul untuk memukul garputala,jangka sorong untuk mengukur diameter tabung resonansi,meteran untuk menentukan jarak l1 dan l2,teko untuk wadah air dan nampan untuk tempat alas alat,thermometer untuk mengukur suhu ruangan,selang untuk mengalirkan air dari teko ke tabung resonansi dan air sebagai medium perambatan resonansi bunyi.
Pada garputala dengan frekuensi 426,6Hz, pertama disiapkan garputala 426,6Hz dan tabung resonansi yang sudah diukur diameternya ,kemudian teko diisi air hingga tebung resonansi penuh. Garputala dipukul dan diletakan pada bibir tabung. Didengar bunyinya dan dicatat sebagai (l1) diulang dan dicatat sebagai (l2) dicatat dan ditulis hasilnya.
Frekuensi 341,3Hz
Pertama yang harus disiapkan adalah alat-alat dan bahan seperti tabung resonansi untuk mencari dengungan (resonansi) bunyi,garputala pembuat frekuensi tertentu (f 341.3Hz),alat pemukul untuk memukul garputala,jangka sorong untuk mengukur diameter tabung resonansi,meteran untuk menentukan jarak l1 dan l2,teko untuk wadah air dan nampan untuk tempat alas alat,thermometer untuk mengukur suhu ruangan,selang untuk mengalirkan air dari teko ke tabung resonansi dan air sebagai medium perambatan resonansi bunyi.
Pada garputala dengan frekuensi 341,3Hz, pertama disiapkan garputala 341,3Hz dan tabung resonansi yang sudah diukur diameternya ,kemudian teko diisi air hingga tebung resonansi penuh. Garputala dipukul dan diletakan pada bibir tabung. Didengar bunyinya dan dicatat sebagai (l1) diulang dan dicatat sebagai (l2) dicatat dan ditulis hasilnya.
5. KESIMPULAN
Pada materi percobaan Resonansi Bunyi didapatkan beberapa kesimpulan sebagai berikut :
Ø Gelombang adalah bentuk dari getaran yang merambat pada suatu medium
Ø Cepat rambat gelombang adalah jarak yang ditempuh oleh gelombang
Ø Macam-macam gelombang bunyi adalah :
Ø Berdasarkan perambatan gelombang
-Gelombang Transversal
-Gelombang Longitudinal
Ø Medium Perantara
-Gelombang Mekanik
Gelombang Elektromagnetik
Ø Amplitudo dan fasenya
-Gelombang Jalan
-Gelombang Diam
DAFTAR PUSTAKA
http://heruhoerussaleh.blogspot.co.id/2010/12/praktikum-resonansi-bunyi.html
http://seputarpendidikan003.blogspot.co.id/2014/12/pengertian-resonansi-bunyi.html
http://fisikazone.com/resonansi/
1. Landasan Teori
Gelombang adalah bentuk dari getaran yang merambat pada suatu medium. Pada gelombang yang merambat adalah gelombangnya, bukan zat medium perantaranya. Satu gelombang dapat dilihat panjangnya dengan menghitung jarak antara lembah dan bukit (gelombang tranversal) atau menhitung jarak antara satu rapatan dengan satu renggangan (gelombang longitudinal). Cepat rambat gelombang adalah jarak yang ditempuh oleh gelombang dalam waktu satu detik (Riyn,2008).
Bunyi adalah bahan terpenting dalam musik. Bunyi berasal dari Sumber bunyi, yang digetarkan oleh tenaga atau energi. Kemudian getaran tersebut oleh pengantar diantarkan atau dipancarkan keluar. Dan bila getaran ini sampai di telinga kita, barulah kita dapat mendengarkannya (Mswahyudi,2009).
Pada umumnya bentuk gelombang di alam adalah sangat kompleks dan sulit digambarkan secara sistematis karena ketidak-linieran, tiga dimensi dan mempunyai bentuk yang random ( Suatu deret gelombang mempunyai periode dan tinggi tertentu ). Beberapa teori yang ada hanya menggambarkan bentuk gelombang yang sederhana dan merupakan bentuk pendekatan gelombang alam. Ada beberapa teori dengan berbagai derajat kekomplekan dan ketelitian untuk menggambarkan gelombang di alam diantaranya adalah teori airy, Stokes, Gertsner, Mich, Knoidal, dan tunggal. Masing – masing teori tersebut mempunyai batasan keberlakuan yang berbeda – beda. Teori yang paling sederhana adalah teori gelombang linier yang pertama kali ditemukan oleh Airy pada tahun 1845(Rahmat,2008).
2. Tinjuan Pustaka
2.1 Pengertian Gelombang
Gelombang adalah getaran yang merambat. Bentuk ideal dari suatu gelombang akan mengikuti gerak sinusoide. Selain radiasi elektromagnetik, dan mungkin radiasi gravitasional, yang bisa berjalan lewat vakum, gelombang juga terdapat pada medium (yang karena perubahan bentuk dapat menghasilkan gaya memulihkan yang lentur) di mana mereka dapat berjalan dan dapat memindahkan energi dari satu tempat kepada lain tanpa mengakibatkan partikel medium berpindah secara permanen; yaitu tidak ada perpindahan secara masal. Malahan, setiap titik khusus berosilasi di sekitar satu posisi tertentu.
(Wikipedia,2010).
Gelombang dapat dipantulkan (refleksi), dibiaskan (refraksi), difokuskan, dipolarisasi dan sebagainya. Penelitian eksperimental tentang gelombang cahaya tentang hukum pemantulan (refleksi) yaitu :Sinar yang direfleksikan dan yang direfraksikan terletak pada satu bidang yang dibentuk oleh sinar datang dan normal bidang batas dititik datang (Gie,2009).
Selama Gelombang dengan medan elektromagnetik yang dinyatakan pada fase medan E yaitu E=X Eo (ejk1-ejk2)= - X 2j Eo sin kz terlihat tidak bergerak , ini disebut dengan gelombang berdiri (Liang,1995).
2.2 Jenis-Jenis Gelombang
Bila gelombang berjalan sepanjang tali ,katakan dari kiri kekanan partikel tali bergerak naik turun dalam arah lintang pada gerak gelombang itu sendiri. Gelombang seperti ini disebut gelombang lintang atau gelombang transversal. Ada tipe gelombang lain yang dikenal sebagai gelombang bujur atau gelombang longitudinal. Dalam sebuah gelombang longitudinal getaran partikel media adalah sama arahnya dengan arah gelombang. Gelombang longitudinal adalah siap dibentuk pada proses yang ditarik atau diletakan secara bergantian menekan dan mengembang pada suatu ujungnya (Giancoli,1997).
Menurut (Riyn,2008) tentang jenis-jenis gelombang seperti berikut :
1.Gelombang transversal
Gelombang transversal adalah gelombang yang arah rambatannya tegak lurus dengan arah rambatannya. Satu gelombang terdiri atas satu lembah dan satu bukit, misalnya seperti riak gelombang air, benang yang digetarkan, dsb.
2. Gelombang longitudinal
Gelombang longitudinal adalah gelombang yang merambat dalam arah yang berimpitan dengan arah getaran pada tiap bagian yang ada. Gelombang yang terjadi berupa rapatan dan renggangan. Contoh gelombang longitudinal seperti slingki / pegas yang ditarik ke samping lalu dilepas (Riyn,2008).
Menurut (Yolanda,2009) berdasarkan amplitudo dan fasenya :
Gelombang berjalan adalah gelombang yang amplitudo dan fasenya sama di setiap titik yang dilalui gelombng.
Gelombng diam (stasioner) adalah gelombang yang amplitudo dan fasenya berubah (tidak sama) di setiap titik yang dilalui gelombang.
2.3 Aplikasi Gelombang Bunyi pada Perikanan
Aplikasi fish finder “Hydro Acoustic” dan GPS dalam teknolgi pencarian ikanb Saat ini, hydro-acoustic memiliki peran yang sangat besar dalam sektor kelautan dan perikanan, salah satunya adalah dalam pendugaan sumberdaya ikan (fish stock assessment). Teknologi hydro-acoustic dengan perangkat echosounder dapat memberikan informasi yang detail mengenai kelimpahan ikan, kepadatan ikan sebaran ikan, posisi kedalaman renang, ukuran dan panjang ikan, orientasi dan kecepatan renang ikan serta variasi migrasi diurnal-noktural ikan (Herawati,2009).
Penggunaan -Gelombang Bunyi (Acoustic) Pada Alat Tangkap Payang Terhadap Hasil Tangkap ]kan di Perairan Pantai Popoh K abupaten Tulungagung dibandingkan pelakuan yaitu pengoperasian alat tangkap payang menggunakan bantu gelombang suara dan tanpa alat pembantu gelombang suara. Pada alat bantu gelombang suara memberikan hasil yang lebih baik dari pada menggunakan alat tangkap tanpa bantu gelombang suara (Efani,1996).
Metode akustik merupakan proses-proses pendeteksian target di laut dengan mempertimbangkan proses-proses perambatan suara. Aplikasi metode ini dibagi menjadi 2, yaitu sistem akustik pasif dan sistem akustik aktif. Salah satu aplikasi dari sistem aplikasi aktif yaitu Sonar yang digunakan untuk penentuan batimetri. Sonar (Sound Navigation And Ranging) berupa sinyal akustik yang diemisikan dan refleksi yang diterima dari objek dalam air (seperti ikan atau kapal selam) atau dari dasar laut(DJPB,2010).
2.4 Bunyi
Bunyi atau suara adalah kompresi mekanikal atau gelombang longitudinal yang merambat melalui medium. Medium atau zat perantara ini dapat berupa zat cair, padat, gas. Jadi, gelombang bunyi dapat merambat misalnya di dalam air, batu bara, atau udara(Wikipedia,2010).
Bunyi adalah suatu bentuk gelombang longitudinal yang merambat secara perapatan dan perenggangan terbentuk oleh partikel zat perantara serta ditimbulkan oleh sumber bunyi yang mengalami getaran (Godam64,2007).
Bunyi adalah bahan terpenting dalam musik. Bunyi berasal dari Sumber bunyi, yang digetarkan oleh tenaga atau energi. Kemudian getaran tersebut oleh pengantar diantarkan atau dipancarkan keluar. Dan bila getaran ini sampai di telinga kita, barulah kita dapat mendengarkannya (Mswahyudi,2009).
2.5 Resonansi Bunyi
Resonansi adalah peristiwa ikut bergetarnya suatu benda akibat benda lain yang bergetar karena keduanya memiliki frekuensi yang sama atau memiliki frekuensi yang merupakan bilangan bulat dari frekuensi salah satu benda bergetar. Resonansi bunyi pada kolom udara dimanfaatkan untuk menghasilkan bunyi pada alat musik. Alat- alat musik memiliki lubang udara sehingga terjadi resonansi udara dan menghasilkan suara yang merdu.
Misalnya : bunyi merdu pada gitar dihasilkan oleh resonansi anatara dawai dan kotak resonansi. Ketika gitar di petik udara di dalam kotk resonansi bergetar dengan frekuensi yang sama dengan frekuensi dawai. Udara yang berada di dalam kendang juga ikut bergetar ketika kendang dipukul. Jika tidak ada kolom udara pada alat musik kita tidak dapat mendengar merdunya suara musik.
Untuk memahami bagaimana proses resonansi kita perhatikan dua buah garputala yang beresonansi seperti pada gambar.
Apabila salah satu garputala kita pukul, maka garputala akan bergetar. hal ini menyebabkan garpula lainnya juga ikut bergetar karena frekuensi keduanya sama. Frekuensi bunyi pada garputaladipengaruhi oleh bentuk garputala, bahan garputala dan besar.
Resonansi Pada Beban Yang Digantung Dengan Tali
Tiga buah batu yang digantung dengan benang
Pada saat beban A diayun ternyata beban B ikut berayun, beban C diam.
Pada saat beban B diayun ternyata beban A ikut berayun, beban C diam.
Pada saat beban C diayun beban A diam dan beban B diam.
Maka pada beban yang digantung dengan tali dapat diambil kesimpulan agar dapat terjadi resonansi panjang tali penggantung harus sama.
Resonansi Kolom Udara
Jika garpu tala dengan frekuensi tertentu dibunyikan di atas kolom udara, kemudian kolom udara digerakkan naik turun, maka suatu saat terdengar bunyi yang lebih keras dari bunyi aslinya secara berulang-ulang. Pada saat terdengar bunyi yang keras dari bunyi aslinya tersebut dikatakan dalam kolom udara terjadi peristiwa resonansi.
Ø Pada saat terjadi perkerasan pertama dikatakan terjadi resonansi I.
Ø Pada saat terjadi perkerasan kedua dikatakan terjadi resonansi II.
Resonansi Kolom Udara
Pada saat terjadi perkerasan ketiga dikatakan terjadi resonansi III dan seterusnya
Ø Resonansi I syaratnya jika L = 1/4 λ
Ø Resonansi IIsyaratnya jika L = 3/4 λ
Ø Resonansi III syaratnya jika L =5/4 λ
Keterangan:
L adalah panjang kolom udara di atas permukaan air.
λ adalah panjang gelombang bunyi yang terbentuk.
Dengan percobaan resonansi pada kolom udara tersebut dapat ditentukan kecepatan bunyi di udara pada saat itu dengan menggunakan persamaan :
V = λ . f
Dimana :
v adalah kecepatan bunyi (dalam m/detik)
λ adalah panjang gelombang (dalam meter)
f adalah frekuensi sumber bunyi (dalam Hz)
Jika getaran yang didengar lebih kuat, ini menunjukkan adanya resonansi dari udara di dalam tabung. Dengan demikian adanya resonansi bunyi, mengakibatkan bunyi asli menjadi lebih keras. Pada alat-alat seperti gitar, biola, kentongan, beduk, dan lain-lain diberi kotak yang berisi udara. Hal ini dimaksudkan karena udara mudah beresonansi maka bunyi yang dihasilkan oleh alat-alat tersebut menjadi lebih keras.
Resonansi Selaput Tipis
Bagian yang sangat penting pada telinga kita dalah gendang pendengaran. Bagaimana jika gendang pendengaran kita rusak? Selaput gendang sangat mudah beresonansi. Jika ada bunyi dari luar yang masuk lewat lubang telinga maka selaput gendang pendengaran akan bergetar. Dengan adanya getaran ini, terjadilah resonansi.
Akibat resonansi, kita dapat mendengar bunyi-bunyi di sekitar kita. Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa syarat terjadinya resonansi adalah :
frekuensinya sama;
ada selaput tipis;
ada ruang udara yang panjangnya sama dengan bilangan ganjil 1/4 kali panjang gelombang.
Resonansi Dapat Memperkuat Bunyi Asli
Bunyi yang dihasilkan garpu tala sebenarnya tidak terlalu keras. Namun, ketika terjadi resonansi dengan kolom udara, suara garpu tala menjadi cukup nyaring terdengar. Di sekitar selaput suara manusia terdapat udara. Ketika selaput suara bergetar, udara ini akan ikut bergetar. Getaran udara ini akan mengakibatkan suara manusia terdengar nyaring.
Kerugian Akibat Resonansi
Tidak selamanya resonansi menguntungkan. Bunyi ledakan bom yang sangat keras dapat menimbulkan getaran yang dapat meruntuhkan gedung-gedung. Getaran kereta api yang lewat menyebabkan bagianbagian rumah yang ada di pinggir rel ikut bergetar. Jika hal ini terjadi terus-menerus dan dalam waktu yang lama maka rumah akan cepat rusak karena proses resonansi.
3. METODOLOGI PERCOBAAN
3.1 Alat dan Fungsi
Alat yang digunakan dalam Praktikum Fisika Dasar materi Resonansi Bunyi adalah :
Ø Tabung Resonansi :untuk mencari dengungan (resonansi) bunyi
Ø Garputala :pembuat,frekuensi tertentu yaitu frekuensi 512,426.6,341.3Hz
Ø Alat Pemukul :untuk memukul garputala
Ø Jangka Sorong :untuk mengukur diameter tabung resonansi
Ø Meteran :untuk menentukan jarak L1 dan L2
Ø Teko :untuk wadah air
Ø Nampan :untuk tempat alas alat
Ø Thermometer :untuk mengukur suhu ruangan
Ø Selang :untuk mengalirkan air dari teko ke tabung resonansi
3.2 Bahan dan Fungsi
Bahan yang digunakan dalam Praktikum Fisika Dasar materi Resonansi Bunyi adalah air sebagai medium perambatan resonansi bunyi.
4. Analisa Prosedur
Pertama yang harus disiapkan pada Praktikum Fisika Dasar materi Resonansi Bunyi adalah alat-alat dan bahan seperti tabung resonansi untuk mencari dengungan (resonansi) bunyi,garputala pembuat frekuensi tertentu (f= 512,426.6,341.3Hz),alat pemukul untuk memukul garputala,jangka sorong untuk mengukur diameter tabung resonansi,meteran untuk menentukan jarak l1 dan l2
teko untuk wadah air dan nampan untuk tempat alas alat,thermometer untuk mengukur suhu ruangan,selang untuk mengalirkan air dari teko ke tabung resonansi dan air sebagai medium perambatan resonansi bunyi.
Garputala dengan frekuensi (512,426.6,341.3 Hz) dipukul dengan alat pemukul lalu didekatkan dibibir tabung resonansi serta diturunkan teko (1cm) hingga terdengar suara pengerasan suara. Diukur antara panjang ujung tabung dengan tinggi permukaan air (l1) agar lebih akurat diulang,dan diulang kembali untuk menentukan (l2) diamati, dan dicatat hasilnya.
Frekuensi 512Hz
Pertama yang harus disiapkan adalah alat-alat dan bahan seperti tabung resonansi untuk mencari dengungan (resonansi) bunyi,garputala pembuat frekuensi tertentu f 512 Hz,alat pemukul untuk memukul garputala,jangka sorong untuk mengukur diameter tabung resonansi,meteran untuk menentukan jarak l1 dan l2,teko untuk wadah air dan nampan untuk tempat alas alat,thermometer untuk mengukur suhu ruangan,selang untuk mengalirkan air dari teko ke tabung resonansi dan air sebagai medium perambatan resonansi bunyi.
Pada garputala dengan frekuensi 512Hz, pertama disiapkan garputala 512Hz dan tabung resonansi yang sudah diukur diameternya ,kemudian teko diisi air hingga tebung resonansi penuh. Garputala dipukul dan diletakan pada bibir tabung. Didengar bunyinya dan dicatat sebagai (l1) diulang dan dicatat sebagai (l2) dicatat dan ditulis hasilnya.
Frekuensi 426,6Hz
Pertama yang harus disiapkan adalah alat-alat dan bahan seperti tabung resonansi untuk mencari dengungan (resonansi) bunyi,garputala pembuat frekuensi tertentu (f 426.Hz),alat pemukul untuk memukul garputala,jangka sorong untuk mengukur diameter tabung resonansi,meteran untuk menentukan jarak l1 dan l2,teko untuk wadah air dan nampan untuk tempat alas alat,thermometer untuk mengukur suhu ruangan,selang untuk mengalirkan air dari teko ke tabung resonansi dan air sebagai medium perambatan resonansi bunyi.
Pada garputala dengan frekuensi 426,6Hz, pertama disiapkan garputala 426,6Hz dan tabung resonansi yang sudah diukur diameternya ,kemudian teko diisi air hingga tebung resonansi penuh. Garputala dipukul dan diletakan pada bibir tabung. Didengar bunyinya dan dicatat sebagai (l1) diulang dan dicatat sebagai (l2) dicatat dan ditulis hasilnya.
Frekuensi 341,3Hz
Pertama yang harus disiapkan adalah alat-alat dan bahan seperti tabung resonansi untuk mencari dengungan (resonansi) bunyi,garputala pembuat frekuensi tertentu (f 341.3Hz),alat pemukul untuk memukul garputala,jangka sorong untuk mengukur diameter tabung resonansi,meteran untuk menentukan jarak l1 dan l2,teko untuk wadah air dan nampan untuk tempat alas alat,thermometer untuk mengukur suhu ruangan,selang untuk mengalirkan air dari teko ke tabung resonansi dan air sebagai medium perambatan resonansi bunyi.
Pada garputala dengan frekuensi 341,3Hz, pertama disiapkan garputala 341,3Hz dan tabung resonansi yang sudah diukur diameternya ,kemudian teko diisi air hingga tebung resonansi penuh. Garputala dipukul dan diletakan pada bibir tabung. Didengar bunyinya dan dicatat sebagai (l1) diulang dan dicatat sebagai (l2) dicatat dan ditulis hasilnya.
5. KESIMPULAN
Pada materi percobaan Resonansi Bunyi didapatkan beberapa kesimpulan sebagai berikut :
Ø Gelombang adalah bentuk dari getaran yang merambat pada suatu medium
Ø Cepat rambat gelombang adalah jarak yang ditempuh oleh gelombang
Ø Macam-macam gelombang bunyi adalah :
Ø Berdasarkan perambatan gelombang
-Gelombang Transversal
-Gelombang Longitudinal
Ø Medium Perantara
-Gelombang Mekanik
Gelombang Elektromagnetik
Ø Amplitudo dan fasenya
-Gelombang Jalan
-Gelombang Diam
DAFTAR PUSTAKA
http://heruhoerussaleh.blogspot.co.id/2010/12/praktikum-resonansi-bunyi.html
http://seputarpendidikan003.blogspot.co.id/2014/12/pengertian-resonansi-bunyi.html
http://fisikazone.com/resonansi/
Kamis, 16 Februari 2017
pesawat atwood
LAPORAN PERCOBAAN ATWOOD
PESAWAT ATWOOD
I. KONDISI LABORATORIUM
Kondisi
|
Awal Praktikum
|
Akhir Praktikum
|
Temperatur
|
(24,3 ± 0,5)⁰C
|
(23,8 ± 0,5)⁰C
|
Kelembapan
|
(71,9 ± 0,5) %
|
(55,6 ± 0,5) %
|
II. TUJUAN
1. Mampu memahami hukum Newton dalam konsep kinematika dengan penerapannya.
2. Memperlihatkan berlakunya hukum Newton dan menghitung memen inersia katrol.
III. ALAT DAN BAHAN
1. Pesawat atwood
2. Stopwatch
3. Neraca Ohauss
4. Satu set massa beban tambahan m1, m2, m3 yang masing-masing beratnya ±5 gram
5. Satu set beban gantung bertali M1 dan M2
IV. TEORI DASAR
a. Katrol
Katrol merupakan salah satu bentuk dari pesawat sederhana yang berfungsi untuk memudahkan pemindahan benda. Prinsip kerja dari pesawat sederhana adalah melipatgandakan gaya atau mengubah arah gaya. Benda atau beban yang berat dapat dipindahkan dengan memberikan sedikit gaya saja. Bilangan yang menyatakanpelipatgandaan hasil dari suatu pesawat sederhana terhadap gaya atau jarak perpindahan disebut keuntungan mekanis.
Dalam pemakaian katrol, biasanya katrol dilengkapi dengan tali. Terdapat dua jenis katrol yaitu katrol tetap (gambar a) dan katrol bergerak (gambar b). Dalam pemakaiannya kita sering menggabungkan beberapa katrol yang disebut dengan sistem katrol (gambar c dan d).
Katrol tetap, katrol bergerak, dan sistem katrol
Pada
gambar di atas, beban FB ditahan oleh jumlah utas atau penggal tali
yang menahan berat benda, sehingga gaya yang diberikan beban FB akan
direspon oleh gaya FK bersama-sama melalui jumlah penggal tali yang
terlibat dalam menahan beban tersebut. Keuntungan mekanis menggunakan sistem adalah sama dengan perbandingan antara besar gaya beban dengan gaya kuasa.
Untuk sistem katrol yang terdiri dari 2 buah katrol, maka ada dua penggal tali yang menahan gaya yang diberikan oleh beban FB seperti terlihat pada gambar 1, sehingga satu penggal tali akan memberikan gaya kuasa sebesar setengahnya dari gaya yang diberikanbeban. Dengan demikian mengangkat benda dengan menggunakan sistem dua katrol dapat dilakukan dengan memberikan gaya yang besarnya setengah dari gaya yang diberikan benda/beban, atau FB = 2 x FK.
Keuntungan mekanis sistem dua katrol adalah FB/ FK = 2. Seringkali beban yang harus kita pindahkan berat sekali. Untuk mengangkatnya kita dapat menggunakan katrol majemuk yang merupakan gabungan dari beberapa katrol diam dan katrol bergerak seperti pada gambar 1d. Terlihat bahwa gaya beban FB ditahan oleh 4 utas/penggal tali. Masing-masing penggal tali memberikan gaya seperempat dari gaya beban FB. Disini FB = 4 x FK. Keuntungan mekaniknya adalah adalah FB/ FK = 4.
Disamping keuntungan tersebut di atas, penggunaan sistem katrol atau katrol ganda juga memiliki kelemahan. Kelemahan penggunaan katrol ganda dalam memindahkan beban adalah pergeseran yang harus kita lakukan menjadi sekian kali lipat dari jumlah penggal tali yang terlibat.
b. Persamaan Gerak Katrol tanpa Massa
Jika suatu katrol hanya dapat berputar pada porosnya, yang diam, maka geraknya dapat dianalisa sebagai berikut :
ΣF = 0
-T - M.g - T2 + N = 0 .......................( 1 )
Στ = I.α
-T1 . R + T2 . R = Iα .......................( 2 )
α = a / R .......................( 3 )
Itulah gaya-gaya yang terdapat pada suatu katrol tanpa massa
c. Persamaan Gerak Katrol dengan Massa Menggantung
Jika suatu katrol diberikan suatu beban tambahan pada masing-masing ujung talinya, maka akan ditemukan persamaan:
Pada saat M1 berada diklem S maka gerak dipercepat dengan persamaan tertulis di atas. Pada saat melalui lubang A, benda m akan tertinggal dan M2 lolos melalui lubang A dan menuju titik B dengan kecepatan konstan. Karena M1 = M2, maka M2 + m berada dititik C, jika M1 dilepas dari klem maka M2 + m akan turun dari titik C ke B melewati titik A dengan gerakdipercepat.
V. PERCOBAAN
5.1. Soal Sebelum Percobaan
1. Andaikanlah,
dalam tangan anda tergenggam sebuah batu. Bila batu tersebut
dilepaskan, anda saksikan batu segera jatuh ke permukaan bumi. Mengapa
batu tersebut selalu jatuh ke bawah menuju permukaan bumi dan tidak
dalam arah sebaliknya atau tetap diam di tempatnya?
Jawab: Karena terdapat gaya gravitasi yang mempengaruhi. Gravitasi
adalah gejala adanya interaksi antara dua benda bermassa, yaitu berupa
gaya tarik-menarik. Ilmuwan pertama kali yang memahami gaya gravitasi
adalah Sir Isaac Newton. Gaya yang menarik kita selalu menuju ke bawah
itu disebut gaya gravitasi. Gaya gravitasi terdapat pada semua benda.
Semakin besar massa/berat benda tersebut, semakin besar pula gaya
gravitasi yang ditimbulkannya. Bumi kita merupakan bola yang sangat
besar, sehingga bumi memiliki gaya gravitasi yang besar pula yang dapat
menarik segala benda yang berada di dekatnya (rumah, manusia, batu,
binatang, bahkan juga bulan dan satelit yang mengelilingi bumi kita).
Oleh karena itulah, walaupun kita berada di bagian bawah bola bumi, kita
tidak akan jatuh karena ada gaya gravitasi bumi yang arahnya menuju
pusat bola bumi.
2. Jelaskan apa yang anda ketahui mengenai Gerak Lurus Beraturan (GLB) dan Gerak Lurus Berubah Beraturan (GLBB)!
Jawab: Gerak lurus adalah gerak suatu obyek yang lintasannya berupa garis lurus. Dapat pula jenis gerak ini disebut sebagai suatu translasi beraturan. Pada rentang waktu yang sama terjadi perpindahan yang besarnya sama. Gerak lurus dapat dikelompokkan menjadi gerak lurus beraturan dan gerak lurus berubah beraturan yang dibedakan dengan ada dan tidaknya percepatan.
a. Gerak Lurus Beraturan (GLB)
Gerak
lurus beraturan (GLB) adalah gerak lurus suatu obyek, dimana dalam
gerak ini kecepatannya tetap atau tanpa percepatan, sehingga jarak yang
ditempuh dalam gerak lurus beraturan adalah kelajuan kali waktu.
s = vt
Keterangan: s = jarak tempuh (m)
v = kecepatan (m/s)
t = waktu (s)
a = 0
(a) Grafik v terhadap t pada GLB (b) Grafik x terhadap t pada GLB
b. Gerak Lurus Berubah Beraturan (GLBB)
Gerak lurus berubah beraturan (GLBB) adalah gerak lurus suatuobyek, di mana kecepatannya berubah terhadap waktu akibat adanya percepatan yang tetap. Akibat adanya percepatan rumus jarak yang ditempuh
tidak lagi linier melainkan kuadratik. Dengan kata lain benda yang
melakukan gerak dari keadaan diam atau mulai dengan kecepatan awal akan
berubah kecepatannya karena ada percepatan (a = +) atau perlambatan (a = −). Pada umumnya GLBB didasari oleh Hukum Newton II ( Σ F = m a ).
vt = vo + at
vt2 = vo2 +2 as
s = vo t + ½ a t2
GLBB dibagi menjadi 2 macam :
i. GLBB dipercepat
GLBB dipercepat adalah GLBB yang kecepatannya makin lama makin cepat, contoh GLBB dipercepat adalah gerak buah dari pohonnya.
Grafik hubungan antara v terhadap t pada GLBB dipercepat Grafik hubungan antara s terhadap t pada GLBB dipercepat
iii. GLBB diperlambat
GLBB diperlambat adalah GLBB yang kecepatannya makin lama makin kecil (lambat). Contoh GLBB diperlambat adalah gerak benda dilempar keatas.
Grafik hubungan antara v terhadap t pada GLBB diperlambat Grafik hubungan antara s terhadap t pada GLBB diperlambat
3. Jelaskan apa yang dimaksud dengan momen inersia?
Jawab: Momen inersia (Satuan SI : kg m2) adalah ukuran kelembaman suatu benda untukberotasi terhadap porosnya. Besaran ini adalah analog rotasi daripada massa. Momen inersia berperan dalam dinamika rotasi seperti massa dalam dinamika dasar, dan menentukan hubungan antara momentum sudut dan kecepatan sudut, momen gaya dan percepatan sudut, dan beberapa besaran lain. Meskipun pembahasan skalar terhadap momen inersia, pembahasan menggunakan pendekatan tensor memungkinkan analisis sistem yang lebih rumit seperti gerakan giroskopik.
4. Sebutkan dan jelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi momen inersia suatu benda!
Jawab:
Selain bergantung pada sumbu rotasi, Momen Inersia (I) setiap partikel juga bergantung pada massa (m) partikel itu dan kuadrat jarak (r2) partikel dari sumbu rotasi. Total massa semua partikel yang menyusun benda = massa benda itu. Persoalannya, jarak setiap partikel yang menyusun benda tegar berbeda-beda jika diukur dari sumbu rotasi. Ada partikel yang berada di bagian tepi benda, ada partikel yang berada dekat sumbu rotasi, ada partikel yang sembunyi di pojok bawah, ada yang terjepit di tengah.
5.2. Langkah Percobaan
A. Persiapan Percobaan
1. Mengukur massa beban tambahan dan massa beban bertali agar lebih presisi dalam perhitungan data.
2. Menulis data mengenai massa dan jari-jari katrol pada pesawat Atwood.
3. Menggantungkan M1 dan M2 pada ujung-ujung tali dan pasang tali pada katrol.
4. Memasang M1 pada genggaman G dan menambahkan beban m1 pada M2. Melepaskan M1 dengan menekan pegas S.
5. Memastikan bahwa beban M2 dapat melalui A tanpa terganggu dan hanya beban M1 saja yang tertahan di A.
B. Prosedur Percobaan
1. Gerak Lurus Beraturan (GLB)
a. Mengukur jarak dari pusat katrol ke ujung atas beban bertali (M2) dan membuat jarak tersebut tetap (tidak diubah).
b. Memvariasikan jarak A ke B (XAB) dan menghitung waktu yang diperlukan beban M1 dari A ke B setelah beban tambahan tertahan pada titik A (tAB), menggunakan stopwatch untuk mengukur waktunya.
c. Mengoreksi jarak AB dengan menambah tinggi beban M2 untuk dimasukkan dalam perhitungan.
d. Melakukan
percobaan ini sebanyak 5 kali dengan nilai massa beban tambahan yang
berbeda. Kemudia membuat table untuk percobaan berdasarkan prosedur
percobaan.
e. Membuat table untuk percobaan berdasarkan prosedur percobaan.
2. Gerak Lurus Berubah Beraturan (GLBB)
a. Memvariasikan jarak C ke A (titik ujung atas beban M2 terhadap titik A atau XCA) dan menghitung waktu yang diperlukan beban M2 + m dari C ke A setelah benda mulai bergerak (tCA). Menggunakan stopwatch untuk mengitung waktunya.
b. Melakukan percobaan ini sebanyak 5 kali dengan nilai massa beban tambahan yang berbeda.
c. Membuat table untuk percobaan berdasarkan prosedur prcobaan.
5.3. Laporan Tugas Sesudah Percobaan
Diketahui:
Massa katrol (mk) = ( 30 ± 0,05 ) gram
Diameter katrol (d) = ( 12 ± 0,05 ) cm
Massa beban (M1) = (100 ± 0,05 ) gram
Massa beban (M2) = (100 ± 0,05 ) gram
1. Percobaan GLB
Jarak tempuh (cm)
|
Percobaan Ke
|
Waktu yang di tempuh XAB (tAB)
| |||||
m1
5 gr
|
Koreksi
<tab>
|
m2
10 gr
|
Koreksi
<tab>
|
m3
15,15 gr
|
Koreksi
<tab>
| ||
Xab =
(10 ± 0,5) cm
|
1
|
1
|
1,12
|
1
|
0,92
|
0,6
|
0,58
|
2
|
1,2
|
0,8
|
0,6
| ||||
3
|
1,2
|
0,8
|
0,5
| ||||
4
|
1
|
1
|
0,6
| ||||
5
|
1,2
|
1
|
0,6
| ||||
Xab =
(45 ± 0,5) cm
|
1
|
2,6
|
2,32
|
1,7
|
1,78
|
1,3
|
1,26
|
2
|
2,3
|
1,7
|
1,3
| ||||
3
|
2,2
|
1,8
|
1,2
| ||||
4
|
2,3
|
1,8
|
1,2
| ||||
5
|
2,2
|
1,9
|
1,3
| ||||
Xab =
(50 ± 0,5) cm
A = 0
B = 50
|
1
|
2,5
|
2,54
|
2
|
1,94
|
1,4
|
1,38
|
2
|
2,6
|
2
|
1,5
| ||||
3
|
2,5
|
1,8
|
1,4
| ||||
4
|
2,5
|
1,9
|
1,3
| ||||
5
|
2,6
|
2
|
1,3
| ||||
Grafik XAB terhadap tAB
Persamaan
a. Persamaan untuk m1
y = 28,504x - 21,818
b. Persamaan untuk m2
y = 39,71x - 26,418
c. Persamaan untuk m3
y = 50,501x - 19,205
Besar kecepatan masing-masing massa dengan grafik
28,2 cm/s = 0,282 m/s (massa 1)
39,2 cm/s = 0,392 m/s (massa 2)
50 cm/s = 0,5 m/s (massa 3)
Perbandingan kecepatan pada tiap-tiap massa
Nilai perbandingan m1 : m2 : m3
0,282 : 0,392 : 0,5 = 3 : 4 : 5
Pada
massa 1, massa 2, dan massa 3 yang digunakan dalam percobaan, massa 3
adalah yang paling cepat mencapai titik B dari A sebab massanya paling
besar, dan massa 1 yang paling lambat dalam mencapai titik B dari A
sebab massanya paling kecil.
Kecepatan di daerah AB konstan dan jarak AB harus dikoreksi terhadap tinggi beban M2
Hal
tersebut dikarenakan massa benda yang berbeda mempengaruhi kecepatan
benda. Namun, kecepatan benda tersebut tetap sama dalam jarak berapapun
dalam suatu massa beban yang sama,yang menyebabkan kecepatan di daerah
AB konstan dan disebut sebagai Gerak Lurus Beraturan. Jarak AB harus
dikoreksi terhadap tinggi beban M2 sebab dibutuhkan pengukuran dan data
yang tepat untuk mengetahui kecepatan di daerah AB, kemudian untuk
membuktikan bahwa terjadi gerak lurus beraturan dengan kecepatan di
daerah AB konstan.
2. Percobaan GLBB
Tabel Hasil Pengamatan
Jarak tempuh (cm)
|
Percobaan Ke
|
Waktu yang di tempuh XAB (tAB)
| |||||
m= 5,05 gr
|
Koreksi
<tab>
|
2m= 10,10 gr
|
Koreksi
<tab>
|
3m= 15,15 gr
|
Koreksi
<tab>
| ||
Xbc =
(45 ± 0,5) cm
|
1
|
3,0
|
2,96
|
1,8
|
1,84
|
1,2
|
1,36
|
2
|
2,8
|
1,8
|
1,4
| ||||
3
|
3,0
|
1,8
|
1,2
| ||||
4
|
3,0
|
2,0
|
1,3
| ||||
5
|
3,0
|
1,8
|
1,4
| ||||
Xbc =
(50 ± 0,5) cm
|
1
|
3
|
3,04
|
1,9
|
1,92
|
1,5
|
1,42
|
2
|
3
|
1,8
|
1,5
| ||||
3
|
3,1
|
2
|
1,4
| ||||
4
|
3
|
1,9
|
1,3
| ||||
5
|
3,1
|
2
|
1,4
| ||||
Xbc =
(55 ± 0,5) cm
|
1
|
3,1
|
3,10
|
2
|
2,00
|
1,5
|
1,52
|
2
|
3,2
|
1,9
|
1,4
| ||||
3
|
3,1
|
2,1
|
1,6
| ||||
4
|
3
|
2
|
1,5
| ||||
5
|
3,1
|
2
|
1,6
| ||||
Grafik XBC terhadap tBC
Besar percepatan
Massa 1
v1 = x/t = 45/2,96 = 15,2 cm/s
v2 = x/t = 50/3,04 = 16,4 cm/s
v3 = x/t = 55/3,10 = 17,7 cm/s
cm/s2
Massa 2
v1 = x/t = 45/1,84 = 24,5 cm/s
v2 = x/t = 50/1,92 = 26,0cm/s
v3 = x/t = 55/2,00 = 27,5 cm/s
cm/s2
Massa 3
v1 = x/t = 45/1,36 = 33,1cm/s
v2 = x/t = 50/1,42 = 35,3 cm/s
v3 = x/t = 55/1,52 = 36,2 cm/s
cm/s2
Perbandingan Percepatan tiap Massa
Setiap massa memiliki percepatan yang berbeda. Yakni:
17,9 : 18,5 : 19,4
Percepatan di daerah AC konstan, sebab setiap detik kecepatannya bertambah dengan ukuran tertentu dengan nilai yang tetap dan sama.
Faktor yang mempengaruhi percepatan di daerah AC yakni adalah massa benda.
3. Penentuan Momen Inersia Katrol
I =
Massa 1
I =
I = kgcm2
Massa 2
I =
I = kgcm2
Massa 3
I =
I = kgcm2
VI. ANALISIS HASIL PENGOLAHAN
Berdasarkan hasil praktikum, pada gerak lurus beratuan untuk massa 1 diperoleh kecepatan senilai 0,282 m/s sedangkan untuk massa ke 2 diperoleh kecepatan senilai 0,392 m/s,
sedangkan untuk massa ke 3 diperoleh kecepatan 0,5 m/s. Dari sini dapat
kita simpulkan bahwa semakin besar massa suatu benda, maka kecepatannya
pun semakin besar pula.
Untuk Gerak Lurus Berubah Beraturan diperoleh nilai percepatan sebesar 0,179 m/s2 untuk massa 1 dan nilai 0,185m/s2 untuk massa 2, dan untuk massa ke 3 diperoleh percepatan 0,194 m/s2. Hal ini juga dipengaruhi oleh massa benda yang berbeda sesuai dengan hokum Newton II.
Dari semua data yang ada maka diperoleh, dapat diperoleh juga nilai momen inersia yang tidak jauh berbeda untuk massa 1, massa 2, dan massa 3 yaitu sebesar 4,09 kgm2, 4,034 kgm2, 3,918 kgm2. Momen inersia katrol tersebut sekitar 4 kgm2.
Keakuratan hasil perhitungan dapat dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Misalnya untuk faktor eksternal, pada waktu percobaan tersebut adanya kurang ketelitian dalam menempatkan letak dari masing-masing benda, ada pula kesalahan yang disebabkan oleh kurang telitinya dalam menghitung waktu tempuh dari masing-masing benda dalam melakukan pergerakan.
Adapun factor-faktor internal yang dapat menyebabkan perbedaan mengapa bias berbeda hasilnya, diantaranya massa benda bila ditambahkan akan sangat berpengaruh terhadap kecepatan ataupun terhadap waktu tempuh yang dialami oleh masing-masing benda dalam melintasi pesawat Atwood tersebut.
VII. KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
1. Melalui pesawat atwood kita dapat mengetahui dan menerapkan Hukum Newton, khususnya hukum Newton yang ke-2 tentang pergerakan suatu benda.
2. Melalui pesawat atwood kita dapat menentukan nilai kecepatan, percepatan dan momen inersia dari suatu benda. Nilai kecepatan diperoleh dari percobaan mengenai gerak lurus beraturan sedangkan niali percepatan diperoleh dari nilai gerak lurus berubah beraturan.
B. SARAN
1. Pada
saat melakukan praktikum ini, diupayakan untuk lebih teliti dan cermat
dalam pengukuran waktu menggunakan stopwatch sehingga pengukuran yang
didapat lebih tepat.
DAFTAR PUSTAKA
1. Umar, Efrizon. 2008. Buku Pintar Fisika. Jakarta: Media Pusindo.
2. Bueche, Frederic J. 2000. College Physics. United States of America: The McGraw-Hill Companies, Inc.
3. pjjpgsd.dikti.go.id/file.php/1/repository/dikti/
5. sisfo.itp.ac.id/bahanajar/.../Asnal/.../BAB%2013%20Momen%20Inersia.p...
6. elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/.../bab8-regresi_dan_korelasi.pdf
Langganan:
Postingan (Atom)